JAKARTA - Lantai bursa di kawasan Asia-Pasifik mengawali perdagangan hari Jumat, 20 Februari 2026, dengan suasana yang penuh kehati-hatian.
Para investor tampaknya memilih untuk menahan diri, tercermin dari indeks-indeks utama yang bergerak secara variatif atau mixed pada sesi pembukaan pagi ini.
Fenomena ini muncul bukan tanpa alasan; bayang-bayang ketidakpastian kebijakan dari Gedung Putih di bawah kepemimpinan Donald Trump menjadi faktor utama yang memicu kewaspadaan kolektif.
Di tengah situasi global yang dinamis, pasar modal kini tengah mengalkulasi ulang strategi mereka, menjadikan sektor-sektor fundamental yang berkaitan dengan kebutuhan pokok atau sembako investasi sebagai benteng pertahanan sementara dalam menghadapi fluktuasi pasar global.
Sentimen Investor Global Terbelah di Tengah Antisipasi Kebijakan Perdagangan Amerika
Pergerakan bursa Asia yang beragam ini mencerminkan adanya dualisme pandangan di kalangan pelaku pasar.
Di satu sisi, ada optimisme mengenai pertumbuhan ekonomi AS yang mungkin terakselerasi, namun di sisi lain, kekhawatiran akan pecahnya perang dagang baru melalui pemberlakuan tarif impor yang agresif terus menghantui.
Indeks Nikkei 225 di Jepang terpantau mengalami sedikit tekanan di awal sesi karena ketergantungannya yang tinggi pada sektor ekspor.
Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong dan Shanghai Composite di China bergerak fluktuatif di zona merah dan hijau secara bergantian, menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap isu-isu geopolitik saat ini.
Keresahan pasar ini tidak hanya dipicu oleh spekulasi kosong. Para pengelola dana global tengah mencermati setiap narasi yang keluar dari lingkaran pemerintahan Trump, terutama yang berkaitan dengan restrukturisasi rantai pasok global.
Jika proteksionisme kembali menjadi arus utama dalam kebijakan ekonomi AS, maka perusahaan-perusahaan manufaktur besar di Asia harus bersiap menghadapi kenaikan biaya logistik dan hambatan masuk ke pasar Amerika.
Ketidakpastian inilah yang memaksa indeks-indeks utama di kawasan Asia untuk bergerak mendatar tanpa arah yang tegas pada pagi hari ini.
Ekspektasi Langkah Federal Reserve dan Dampaknya Terhadap Arus Modal Asia
Selain faktor kebijakan perdagangan, pasar juga tengah dipusingkan oleh teka-teki mengenai arah suku bunga acuan di Amerika Serikat.
Kebijakan fiskal Trump yang cenderung ekspansif melalui rencana pemotongan pajak diprediksi akan memicu kembali inflasi di dalam negeri AS. Kondisi ini memberikan tantangan bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan waktu yang tepat untuk menurunkan atau justru menahan suku bunga di level yang tinggi.
Ketidakpastian moneter ini secara otomatis berdampak pada nilai tukar mata uang di Asia, termasuk Rupiah, yang terus berjuang melawan dominasi penguatan Dollar AS (DXY).
Arus modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang menuju aset-aset di Amerika Serikat menjadi risiko nyata yang diantisipasi oleh investor di bursa Asia pagi ini.
Fenomena ini membuat valuasi saham di kawasan Asia menjadi sangat sensitif terhadap perubahan yield obligasi AS (Treasury).
Para investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan lebih memilih untuk mengalihkan portofolio mereka ke instrumen yang lebih aman atau perusahaan dengan fundamental yang sangat kuat di sektor domestik masing-masing negara, guna meminimalisir dampak volatilitas nilai tukar.
Resiliensi Sektor Konsumsi dan Ketahanan Saham Emiten Barang Pokok Masyarakat
Menarik untuk dicermati, di tengah goyahnya indeks sektoral teknologi dan manufaktur, saham-saham di sektor barang konsumen primer atau yang sering dianggap sebagai sembako di pasar modal justru menunjukkan daya tahan yang cukup solid.
Para pemodal tampaknya mulai melirik emiten-emiten yang bergerak di bidang kebutuhan pokok dan pelayanan publik sebagai instrumen pelindung (defensive play). Logikanya sederhana: dalam kondisi ketidakpastian global sekalipun, permintaan masyarakat terhadap bahan pangan dan kebutuhan dasar tetap akan stabil.
Pergeseran minat ini terlihat dari aliran dana yang mulai masuk ke sektor-sektor non-siklikal di lantai bursa Asia pada sesi pertama perdagangan.
Perusahaan yang memiliki basis pasar domestik yang luas di negara-negara seperti Indonesia, India, dan China dianggap lebih kebal terhadap sentimen kebijakan luar negeri Trump dibandingkan dengan perusahaan yang murni berorientasi ekspor.
Strategi diversifikasi ke sektor kebutuhan pokok ini menjadi pilihan rasional bagi investor yang ingin tetap berada di pasar modal tanpa harus terpapar risiko geopolitik yang terlalu besar.
Proyeksi Pasar Jelang Penutupan Pekan dan Fokus Data Ekonomi Domestik
Memasuki tengah hari perdagangan, volatilitas diperkirakan akan tetap terjaga. Para analis memprediksi bahwa bursa Asia tidak akan banyak bergerak secara agresif hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai susunan kabinet ekonomi AS atau pengumuman kebijakan tarif yang lebih spesifik.
Investor kini mulai mengalihkan pandangan dari sentimen global ke data-data ekonomi domestik, seperti angka inflasi regional dan kinerja laporan keuangan emiten kuartal pertama tahun 2026 yang akan segera dirilis.
Fokus investor pada pekan-pekan mendatang akan tertuju pada bagaimana pemerintah di negara-negara Asia melakukan langkah penyeimbang terhadap kebijakan "America First". Stimulus fiskal dalam negeri dan penguatan kerja sama perdagangan antar-kawasan Asia diharapkan dapat menjadi bantalan untuk meredam syok eksternal.
Bagi para pelaku pasar, kunci utama dalam menghadapi "Waswas Trump" ini adalah kesabaran dalam memantau data fundamental perusahaan dan tidak terjebak dalam aksi jual yang dipicu oleh kepanikan sesaat di lantai bursa.