Menilik Tradisi Kuliner Kanji Rumbi Sebagai Hidangan Ikonik Ramadhan Di Aceh

Jumat, 20 Februari 2026 | 12:30:57 WIB
Menilik Tradisi Kuliner Kanji Rumbi Sebagai Hidangan Ikonik Ramadhan Di Aceh

JAKARTA - Memasuki bulan suci Ramadhan, Aceh selalu memiliki cara unik untuk merayakan ketaatan melalui ragam kuliner tradisional yang sarat makna.

Salah satu yang paling dinanti dan menjadi simbol kebersamaan masyarakat di Serambi Mekkah adalah Kanji Rumbi. Hidangan sejenis bubur ayam yang kaya akan rempah ini bukan sekadar menu berbuka puasa biasa; ia adalah warisan budaya yang merepresentasikan semangat gotong royong dan kedermawanan warga Aceh yang telah diwariskan secara turun-temurun hingga tahun 2026 ini.

Kanji Rumbi memiliki karakteristik rasa yang sangat kuat, mencerminkan kekayaan rempah Nusantara yang berpadu dengan pengaruh kuliner pesisir. Di berbagai sudut kota, khususnya di area masjid-masjid bersejarah, aroma harum masakan ini menjadi penanda bahwa waktu berbuka segera tiba.

Ragam Rempah Dan Filosofi Di Balik Kelezatan Semangkuk Kanji Rumbi

Keunikan Kanji Rumbi terletak pada komposisi bahan-bahannya yang sangat kompleks. Berbeda dengan bubur pada umumnya, hidangan ini dimasak dengan campuran rempah-rempah pilihan seperti cengkeh, kayu manis, kapulaga, dan jintan.

Penambahan sayuran seperti wortel dan kentang, serta suwiran daging atau udang, menjadikannya hidangan yang sangat bergizi untuk mengembalikan stamina setelah seharian berpuasa.

Setiap bahan yang dimasukkan ke dalam kuali besar (beulangong) memiliki filosofi tersendiri. Penggunaan rempah yang melimpah tidak hanya bertujuan untuk melezatkan rasa, tetapi juga berfungsi sebagai obat tradisional untuk menghangatkan tubuh dan melancarkan pencernaan.

Proses memasaknya yang memakan waktu lama mencerminkan kesabaran dan ketelatenan masyarakat dalam menjaga kualitas warisan leluhur agar tetap otentik.

Semangat Gotong Royong Dalam Tradisi Memasak Massal Di Masjid

Fenomena yang paling menarik dari kuliner tradisional kanji rumbi khas Ramadhan di Aceh adalah proses pembuatannya yang dilakukan secara kolektif. Biasanya, warga secara sukarela menyumbangkan bahan makanan atau dana ke masjid, kemudian dimasak bersama oleh para pria di halaman masjid menggunakan kayu bakar.

Tradisi memasak massal ini menjadi ajang silaturahmi yang sangat kuat. Tidak ada sekat sosial saat warga mengaduk bubur di dalam beulangong raksasa.

Setelah matang, Kanji Rumbi akan dibagikan secara gratis kepada siapa pun yang datang ke masjid, mulai dari musafir, fakir miskin, hingga warga sekitar. Inilah esensi sejati dari Ramadhan di Aceh: berbagi keberkahan melalui semangkuk bubur hangat yang penuh rasa.

Daya Tarik Wisata Religi Dan Kuliner Nusantara Di Serambi Mekkah

Kepopuleran Kanji Rumbi telah melintasi batas wilayah Aceh. Kini, hidangan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung saat bulan Ramadhan. Menikmati Kanji Rumbi langsung di pelataran masjid memberikan pengalaman spiritual dan sensorik yang tak terlupakan.

Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat terus berupaya melestarikan tradisi ini sebagai identitas budaya yang kuat. Upaya dokumentasi visual dan narasi sejarah mengenai Kanji Rumbi diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Aceh untuk tetap mencintai dan merawat tradisi kuliner ini di tengah arus modernisasi makanan cepat saji.

Menjaga Keberlanjutan Warisan Kanji Rumbi Bagi Generasi Mendatang

Meskipun zaman terus berubah, eksistensi Kanji Rumbi di Aceh seolah tak pernah lekang oleh waktu. Kehadirannya setiap tahun memberikan pesan bahwa identitas sebuah bangsa dapat dilihat dari cara mereka menghargai makanan tradisionalnya. Kanji Rumbi bukan hanya soal rasa di lidah, tapi soal ingatan kolektif tentang kebaikan, kehangatan, dan persaudaraan.

Melalui tradisi ini, Aceh membuktikan bahwa kuliner dapat menjadi jembatan untuk mempererat kohesi sosial. Bagi siapa pun yang pernah mencicipinya, Kanji Rumbi akan selalu meninggalkan jejak kerinduan untuk kembali ke Aceh dan merasakan hangatnya kebersamaan di bawah naungan bulan suci Ramadhan.

Terkini